Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang mengharamkan hampir semua aspek kehidupan kita saat ini. Bagaimana cara kita memahami hadits ini dalam tinjauan ilmu hadits, sejarah, politik dan budaya?

Berbeda dengan imajinasi pihak tertentu, dari mulai Prof Samuel Huntington sampai Emak-emak yang hobi main medsos, yang membayangkan terjadinya benturan budaya, sesungguhnya peradaban manusia dibangun lewat perjumpaan dan percampuran berbagai budaya di dunia ini. Dari mulai bahasa, pakaian, makanan, karya seni, teknologi sampai olahraga terdapat titik-titik kesamaan yang kemudian bila dilacak ke belakang kita akan kesukaran menentukan identitas asli tradisi tersebut.

Ambil contoh, memakan dengan sumpit. Kawan bule saya keheranan saya tidak bisa menggunakan sumpit padahal sudah 20 tahun lebih tinggal di Australia. Ganti saya yang keheranan ketika sumpit dihubungkan dengan tradisi Australia. Bukannya ini berasal dari Cina? Kawan bule saya dengan santai bilang: “Aslinya sih begitu, tetapi semua anak Ausie tahu cara pakai sumpit.”

Saya beri satu contoh umum lagi, sebelum kita masuki contoh yang kontroversial. Sepak bola modern berasal dari Inggris. Paling tidak itu kata kawan saya yang penggemar berat Arsenal. Tapi ternyata olahraga ini punya sejarah panjang dari mulai permainan cuju di Cina, sampai permainan epyskiros di Yunani.

Dan kini setiap menyebut sepak bola, dunia tidak lagi mengingat pemain Inggris, Cina atau Yunani, tetapi Messi dari Argentina dan Ronaldo dari Portugal (keduanya bermain di Liga Spanyol). Dan saya menduga baik Messi maupun Ronaldo juga tidak keberatan makan dengan sumpit.

Nah, bisakah hanya gara-gara makan dengan sumpit atau menjadi penggemar bola, Anda kemudian dianggap bagian dari mereka? “Mereka” itu siapa? Itu saja tidak jelas karena untuk sampai kepada “mereka”, perjalanan sumpit dan sepak bola itu panjang melintasi benua dan samudera. Tapi bukankah sebagai orang Jawa, Sunda, Bugis atau Ambon Anda tetap tidak merasa kehilangan kejawaan, kesundaan, kebugisan atau keambonan Anda hanya karena makan mie pangsit dengan sumpit atau mengoleksi berbagai atribut Real Madrid atau  Barca?

Lantas apa maksud hadits di atas? Saya dulu pernah menjelaskan soal politik identitas. Saya kutip sebagian:

Pada masa Nabi Muhammad hidup lima belas abad yang lampau, identitas keislaman menjadi sesuatu yang sangat penting. Tapi bagaimana membedakan antara Muslim dengan non-Muslim saat itu? Bukankah mereka sama-sama orang Arab yang punya tradisi yang sama, bahasa yang sama bahkan juga berpakaian yang sama? Untuk komunitas yang baru berkembang, loyalitas ditentukan oleh identitas pembeda.

Pernah pada suatu waktu, orang kafir menyatakan masuk Islam di pagi hari, dan kemudian duduk berkumpul bersama-sama komunitas membicarakan strategi dakwah, tapi di sore hari orang itu menyatakan dia kembali kafir lagi. Maka, murkalah Nabi. Tindakan itu dianggap sebuah pengkhianatan terhadap loyalitas komunal. Di sini muncullah hukuman mati terhadap orang murtad, yang di abad modern ini mirip dengan hukuman terhadap pengkhianat dan pembocor rahasia negara.

Mulailah Nabi Muhammad melakukan konsolidasi internal: loyalitas dibentengi dengan identitas khusus. Nabi melakukan politik identitas: umat Islam dilarang menyerupai kaum Yahudi, Nasrani, Musyrik bahkan Majusi. Maka, keluarlah aturan pembeda identitas dari soal kumis-jenggot, sepatu-sendal, dan warna pakaian. Pesannya simpel: berbedalah dengan mereka. Jangan menyerupai mereka, karena barang siapa yang menyerupai mereka, maka kalian sudah sama dengan mereka.

Inilah konteks hadits di atas: politik identitas dari Nabi untuk komunitas Islam saat itu. Nah, para ustaz jaman now yang gemar mengutip hadits tasyabuh ini sebenarnya juga hendak mengukuhkan identitas keislaman kita bahwa kita berbeda dengan “mereka”. Namun para ustaz lupa bahwa kita tidak lagi hidup di komunitas terbatas seperti perkampungan Madinah 15 abad lalu.

Kita sekarang sudah menjadi citizen of the world (warga dunia). Kondisi sudah berubah, identitas keislaman tidak akan tergerus oleh pembeda yang berupa asesoris semata. Identitas keislaman saat ini adalah akhlak yang mulia.

Secara sanad, hadits di atas juga tidak diriwayatkan oleh dua kitab utama, Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Para ulama hadits juga berbeda menentukan derajat hadits itu. Ada yang mensahihkan, ada yang memandang hadits itu hasan, bahkan ada pula yang mendhaifkannya. Bagi yang mengkritik perawi hadits di atas, mereka misalnya menemukan persoalan pada Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban.

Ahmad bin Hanbal mengatakan hadits yg diriwayatkan perawi ini munkar. Abu Dawud mengatakan tidak mengapa dengannya. An-Nasa’i mengatakan dha’if. Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa yang bersangkutan itu jujur, tapi sering keliru, dianggap bermazhab Qadariyyah, dan berubah hapalannya di akhir usianya.

Mengapa para ustaz tidak menjelaskan perbedaan status sanad hadits ini dan juga konteks kemunculannya? Saya berbaik sangka para ustaz tidak punya kesempatan yang cukup untuk menjelaskannya di video youtube mereka yang viral itu.  Wa Allahu a’lam.

Saya ingin sekali lagi menunjukkan betapa pentingnya memahami hadits sesuai konteksnya. Misalnya ada riwayat:

“Berbedalah kalian dengan Yahudi, karena mereka salat tidak pakai sandal dan sepatu” (HR Abu Daud).

Guru saya, Prof Dr KH Ali Mustafa Ya’qub, pernah menjelaskan bahwa kondisi masjid di zaman Nabi itu tidak pakai lantai. Hanya beralaskan tanah atau pasir. Maka, kita paham konteksnya. Bayangkan kalau hadits ini sekarang kita pakai apa adanya dan kita masuk masjid dengan sandal dan sepatu. Kita akan diteriakin bahkan mungkin dianggap penista Islam. Itulah gunanya memahami konteks hadits.

Yang dulunya diwajibkan, malah bisa dilarang, ketika konteksnya berubah. Abu Yusuf, murid utama Imam Abu Hanifah, dengan cerdas mengeluarkan kaidah: “Jika suatu nash muncul dilatarbelakangi sebuah tradisi, dan kemudian tradisi itu berubah, maka pemahaman kita terhadap nash itu juga berubah.”

Di samping itu, tidak benar kalau Rasulullah selalu hendak berbeda dengan kaum non-Muslim. Misalnya HR Bukhari-Muslim ini:

“Nabi SAW tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab : ”Sebuah hari yang baik, ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka, beliau Rasulullah menjawab : ”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.”

Saya sudah jelaskan bahwa cara berpakaian orang Arab baik Muslim maupun non-Muslim saat itu serupa, maka penanda yang tampak seperti tampak di wajah itu menjadi penting bagi identitas keislaman pada saat itu seperti riwayat ini:

“Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR Muslim).

Tapi bagaimana dengan model sisiran? Ternyata Nabi tidak menyelisihi non-Muslim. Kenapa? Karena rambut tertutup sorban sehingga apa pun model sisiran rambut tidak akan menjadi penanda identitas. Perhatikan riwayat ini:

“Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah dahulunya menyisir rambut beliau ke arah depan hingga kening, sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambutnya ke bagian kiri-kanan kepala mereka, sementara itu Ahlul Kitab menyisir rambut mereka ke kening. Rupanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih suka bila bersesuaian dengan apa yang dilakukan oleh Ahlul Kitab dalam perkara yang tidak ada perintahnya. Namun kemudian hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyisiri rambutnya ke arah kanan-kiri kepala beliau”. (HR Bukhari)

Nah, kalau kita memahami teks riwayat di atas secara apa adanya, apa kita berani mengatakan bahwa Rasulullah serupa dengan non-Muslim dan telah menjadi bagian dari mereka hanya karena model sisirannya sama? Yang heboh nanti sobat saya, Kang Maman Suherman, yang plontos itu. Dia akan bingung mau nyisir model apa biar gak dianggap kafir!

Begitu juga soal jenggot dan kumis, kini tidak lagi menjadi satu-satunya pembeda antara identitas Muslim dengan non-Muslim. Banyak selebriti yang sekarang memelihara jenggot dan tidak berkumis, begitu juga para tokoh non-Muslim yang juga seperti itu. Apa mereka menjadi Muslim atau kita yang menjadi kafir gegara punya jenggot?

Sekarang bagaimana dengan perayaan tahun baru? Bagaimana dengan perayaan Valentine? Bagaimana dengan ucapan selamat hari ibu, selamat ulang tahun, selamat atas wisuda, selamat atas promosi jabatan? Bagaimana kalau kita pakai celana jeans, atau dasi dan jas?

Untuk perempuan, tahukah Anda sejarah bra? Zaman Rasul gak ada muslimah yang pakai bra, itu tradisi Eropa abad ke-18. Bolehkah Anda sekarang pakai bra? Untuk yang lelaki, bagaimana kalau kita pakai topi cowboy atau topi ulang tahun, atau topi santa?

Saya sudah jelaskan konteks hadits tasyabuh dan dikaitkan dengan hadits lain serta pemahaman kita akan interaksi berbagai budaya di dunia. Kembali ke contoh awal di tulisan saya ini, apa Anda lantas merasa jadi kafir hanya karena makan dengan sumpit dan menonton atau ikut bermain sepak bola?

Dalam tradisi hukum Islam dikenal kaidah al-‘adah muhakkamah. Tradisi yang tidak bertentangan langsung dengan pokok-pokok akidah itu bisa diakui dan diakomodir dalam praktik maupun ekspresi keislaman kita. Kaidah ini membuat Islam bisa menerima berbagai budaya tanpa harus kehilangan identitas keislaman kita. Itu pula yang dilakukan Walisongo saat mengakomodir budaya dan tradisi Nusantara.

Saya tidak ingin memberi fatwa boleh atau tidaknya merayakan ini dan itu, boleh tidaknya memakai ini dan itu. Anda putuskan sendiri saja. Semoga penjelasan saya ini cukup menjadi bahan pertimbangan Anda. Hidup ini pilihan. Selamat memilih, dan Selamat Tahun Baru 2018! –

(Nadirsyah Hosen, https://geotimes.co.id/kolom/agama/menyerupai-suatu-kaum-hadits-konteks-budaya-dan-tahun-baru-2018/)

 

Advertisements

Kurun 15 Sangat Berat

Kurun 15 Sangat Berat

Hari ini kita telah memasuki awal tahun baru, 1440 H dan tentu saja kita berada pula dalam kurun (abad) ke 15, sebuah kurun yang penuh ketidakpastian dan tidak pernah diberitakan oleh Nabi kita. Beliau hanya mengatakan bahwa kurun ke 14 sangat berat, dan kurun 14 sangat berat itu telah 40 tahun kita lewati. Para peramal terdahulu juga hanya bisa memprediksi kejadian di abad ke 14, setelah itu tidak bisa diprediksi sama sekali.

Kurun ke 14 dimulai dari sekitar tahun 1880 dan berakhir tahun 1980, lebih dan kurang seperti itu. Kalau kita perhatikan dengan seksama, dalam rentang 100 tahun itu telah banyak sekali terjadi huru hara dan bencana menimpa seluruh dunia. Kejatuhan Kesultanan Turki Usmani dalam perang dunia pertama, maka berakhirlah kekhalifahan Islam, simbol persatuan ummat yang telah terbina selama 1300 tahun secara sambung menyambung. Kemudian berdiri kerajaan Saudi Arabia dengan paham wahabinya, maka dimulailah masa paling kelam dalam sejarah umat Islam.

Tasawuf runtuh dan hancur di pusat Islam yaitu Mekkah dan Madinah dengan ditutupnya pusat Tarekat Naqsyabandi di Jabal Qubis dan dilarang segala jenis tarekat. Bukan hanya itu, kuburan Baqi sebagai jejak sejarah perjuangan Islam juga diratakan dengan tanah, rumah para sahabat Nabi dijadikan hotel, seluruh tempat bersejarah yang berhubungan dengan Baginda Nabi dilenyapkan, maka lenyaplah kenangan-kenangan fisik Nabi di dunia ini.

Di kurun 14 itu juga sunnah di sebut bid’ah dan bid’ah dijadikan sunnah, wajib dijadikan haram dan yang haram kemudian diwajibkan. Ulama-ulama yang berpegang teguh kepada sunnah dikucilkan, dijauhkan bahkan banyak yang dibunuh agar ajaran baru kaum bodoh itu bisa diterima oleh masyarakat.

Dalam rentang waktu 100 tahun itu juga terjadi 2 perang besar yaitu perang dunia pertama dan perang dunia kedua. Munculnya komunis dengan korban ratusan juta jiwa diseluruh dunia. Indonesia turut merasakan betapa luar biasa efek yang ditimbulkan oleh pemberontakan komunis yang berakhir di tahun 1966.

Dari perang fisik yang menghancurkan jiwa dan harta itu, kerugian terbesar ummat Islam tentu saja dibunuhnya paham tasawuf oleh musuh-musuh Islam lewat agen-agen didikan mereka yang disusupkan kedalam Islam, merusak Islam dari dalam. Ketika tasawuf lewat praktek Tarekat dimasukkan dalam kategori Bid’ah, Sesat bahkan Kafir, maka disaat itulah Islam menjadi lemah, lunglai tidak berdaya menghadapi tantangan zaman.

Kapan munculnya Negara Israel? Ketika Jabal Qubis di tutup dan ajaran Tasawuf menjadi haram diseluruh dunia, terkhusus di negeri Arab. Maka dimulailah pembantaian demi pembantaian ummat Islam tanpa mampu kita melawannya. Ummat Islam seluruh dunia lumpuh total. Seluruh orang berdoa agar Israel hancur, tapi Israel semakin kuat, dimana letak kesilapannya? Kenapa doa tidak lagi makbul?

Kita yang telah berada di kurun 15 yang sangat berat ini tidak ada jalan keluar kecuali kita harus berada di dalam kapsul menang agar kita terbentengi. Kapsul menang itu tidak lain adalah Kalimah Allah yang berkekalan di dalam hati. Bagi yang telah memiliki Guru Mursyid, laksanakan zikir seperti yang diajarkan, senantiasa di dalam Rabithah agar terus tersambung kepada Rasulullah SAW, dengan cara ini pula senantiasa tersambung kepada Allah SWT.

Dalam masa yang penuh dengan angkara murka ini juga telah diprediksi Islam akan bangkit membawa rahmat bagi seluruh alam. Islam bangkit tidak mungkin hanya fisiknya (syariat), tapi yang paling wajib adalah bangkit ruhnya (tasawuf). Ketika ruh itu bangkit secara otomatis fisik akan bangkit pula. Tapi kalau fisik dibangunkan tanpa ada ruh, maka akan menjadi mayat yang berjalan, tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Maka di zaman yang Islam kembali menjadi asing ini, hendaknya kita semua terus perpegang kepada Tali Allah agar kita semua selamat. Islam manjadi asing yang disebut Nabi tentu saja bukan gerakan fisik yang kita kenal. Ibadah ummat Islam sampai saat ini tidak terlihat asing, bahkan gerakan Islam secara zahir telah bangkit dan semua menerima. Pakaian Islam, hukum mengarah kepada Islam, shalat berjamaah digalakkan terus, lalu dimana letak asing nya??

Asing dimaksud oleh Nabi adalah Islam yang diamalkan hanya bersifat fisik semata. Nabi di zamannya melaksanakan shalat berserta dengan ruh ikut shalat, ikut bermikraj, sedangkan di akhir zaman hanya gerak fisik semata. Ajaran pokok dari Islam dilaksanakan lewat metodologinya (tarekat) menjadi asing dan langka.

Ajaran Islam yang murni tetap terpelihara, dibawa oleh para ulama pewaris Nabi yang bukan saja mewarisi ajarannya tapi juga cahaya-Nya. Ajaran Islam itu tersimpan rapi dalam Qalbu Para Guru Mursyid yang kemudian dilimpahkan kepada Qalbu orang-orang beriman sejak dari zaman dulu sampai akhir zaman nanti.

Mungkin saat ini Tasawuf menjadi haram di Mekkah oleh karena hasutan para Orientalis musuh-musuh Islam sejak 100 tahun lalu, tapi yakinlah akan tiba masa dimana Mekkah kembali menjadi pusat Tasawuf dunia, tempat orang bersuluk, ber’iktikaf dan berkhalwat sebagaimana yang dilakukan Nabi. Ibarat sirih yang akan pulang ke tampuknya, begitulah hakikat Islam yang telah berkelana ke negari-negeri jauh, berkembang terus dan akan kembali nanti ke pangkalnya yaitu Negeri Mekkah.

Semoga kita semua diberi kesehatan dan umur panjang untuk menyaksikan masa paling bahagia itu, Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

(www.sufimuda.net)

Virtual Reality

Pada saat manusia menemui kematiannya, maka iapun terbangun dari tidurnya. (Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW)

Bagi kita yang sedang menjalani hidup di dunia ini, kehidupan di alam kubur adalah Abstrak atau tidak nyata karena kita tidak mengalaminya, begitu juga sebaliknya bagi orang di alam kubur, kehidupan di dunia ini sudah menjadi Abstrak bagi mereka, karena juga tidak nyata. Kehidupan Malaikat bagi manusia menjadi Abstrak karena Malaikat hidup pada dimensi lain, bukan dimensi manusia sehingga tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Surga, Neraka, Siksa Kubur menjadi Abstrak bagi manusia yang sedang menjalani kehidupan di dunia ini. Bukan hanya itu, Rasul pun telah menjadi Abstrak karena telah lama wafat, jadi rukun iman yang 6 perkara itu semuanya adalah Abstrak, lalu bagaimana kita bisa mencapai tahap Mukmin kalau semua masih Abstrak??

Dari 6 hal yang wajib kita percaya atau imani, hanya satu saja yang bersikat Konkrit atau nyata yaitu percaya kepada Kitab (Al-Qur’an), namun kalau diuraikan lebih lanjut tentang hakikat dari al-Qur’an yang berada di sisi Allah SWT (Al-Qur’anul Majid), maka kitab itu pun menjadi Abstrak.

Maka awalnya setiap orang Islam mencapai tahap “Percaya” tanpa perlu membuktikan, Percaya kepada Allah, Malaikat, Rasul, Takdir, Hari Akhirat, kesemuanya diyakini, lewat nasehat dan bacaan. Percaya tanpa perlu pembuktian itu adalah dogma, karena itu kebanyakan orang beragama (agama manapun) kebanyakan pemeluknya mempercayai dogma.

Allah SWT menurunkan Al-Islam sebagai agama akhir zaman tentu saja bukan menjadi agama Dogmatis, mempercayai tanpa bisa dibuktikan, Islam adalah agama yang mampu merealisasikan setiap ajarannya sehingga tidak lagi sekedar Abstrak tapi menjadi konkrit.

Tahap pembuktian ini tentu saja bukan pada level Syariat (hukum-hukum/aturan-aturan) tapi pada tahap Tarekat (Metodologi), sehingga apa pun yang tertulis di dalam kitab al-Qur’an dan al-Hadist bisa direalisasikan dengan nyata, dibuktikan secara konkrit.

Ibarat Sekolah, Tarekat adalah tahap pendidikan akhir atau universitas dimana disana dilakukan riset (penelitian) terhadap teori-teori yang selama ini dipelajari sejak SD sampai dengan SMA. Di Universitas disediakan laboratorium untuk meneliti dan membuktikan segala hal yang selama ini hanya menjadi dogma ketika menempuh pendidikan dibawahnya.

Maka di kalangan pengamal tarekat seharusnya tidak ada lagi dogma-dogma, teori-teori yang tidak bisa dibuktikan, kecuali mungkin dia mengamalkan tarekat yang Gurunya bukan seorang Master yang bisa membimbing segenap mahasiswa untuk menguji segala teori-teori tersebut. Bisa jadi yang dijadikan Master itu hanya orang yang bersekolah tahap SD (Syariat) tapi mengaku sebagai Master sehingga metode pengajarannya sama persisi seperti pola pendidikan SD.

Barangkali anda penasaran, apa hubungan rukun iman yang saya kemukakan di awal dengan pembuktian, bisakah segala yang Gaib di dalam rukun iman itu di konkrit-kan?

Pada tahap Syariat (termasuk ilmu Tauhid di dalamnya), anda hanya diwajibkan meyakini akan adanya Allah SWT, sebagai Tuhan yang wajib disembah, hanya itu. Paling tinggi anda di sodorkan dalil Naqli (ayat-ayat al Qur’an) dan dalil Aqli (pembuktian lewat alam) bahwa Allah SWT. Pada tahap ini agama apapun sama, hanya diwajibkan pemeluk untuk yakin bahwa Tuhan itu ada, pencipta kita semua.

Selama masih belajar agama secara teori (syariat) maka ilmu itu hanya sampai kepada keyakinan tanpa bisa dibuktikan, tanpa bisa diwujudkan sama sekali. Walaupun anda menjalani kehidupan beragama telah 40 tahun, tetap saja hanya sampai ke tahap dogma saja, tidak akan lebih. 40 tahun anda sekolah SD, waktu memang lama tapi ilmu yang anda pelajari hanya itu saja, tetap tidak ada perubahan sama sekali. Jadi bukan waktu yang salah tapi pendidikan yang anda tempuh yang salah.

Maka Allah SWT menurunkan kepada Nabi SAW sebuah metode untuk bisa melaksanakan segala firman-Nya, sehingga bisa direalisasikan, metode ini disebut dengan Thareqatullah (Jalan kepada Allah). Tarekat tidak lagi membahas tentang adanya Allah karena itu sudah selesai di syariat. Di dalam tarekat, para pengamal atau penempuh berjalan setahap demi setahap kehadirat-Nya, dan ketika mencapai tahap Makrifatullah maka dia akan merasakan kehadiran Allah SWT di dalam hatinya. Bagi mereka Allah bukan lagi sekedar diyakini tapi memang sudah sampai ke tahap pembuktian.

Kenapa Malaikat itu tidak nampak karena berada di alam lain, dimensi yang berbeda dengan manusia, ketika dimensi itu ditembus lewat mujahadah (suluk, zikir, ubudiyah) maka alam malaikat itu tidak lagi menjadi Abstrak tapi menjadi Konkrit. Bagi orang di alam kubur, siksa kubur itu menjadi Konkrit (nyata) hal yang selama ini menjadi Abstrak (gaib) bagi kita di dunia. Begitu juga malaikat akan menjadi gaib baik manusia yang berada pada alam dunia, tapi ketika dia telah berada di alam Malakut, maka malaikat itu menjadi NYATA.

Rasul menjadi gaib karena terpisah oleh jarak 1400 tahun dengan Beliau dan berada pada dimensi berbeda. Ketika kita berada pada dimensi yang sama, alam yang sama maka Rasul pun menjadi NYATA. Banyak ulama-ulama sejak zaman dulu sampai sekarang senantiasa berkomunikasi dengan Rasulullah SAW sebagaimana Beliau masih hidup. Imam al-Ghazali yang hidup ratusan tahun setelah Nabi berkata, “Tidak satupun hadist yang aku tulis kecuali aku meminta persetujuan dari Rasulullah”. Begitu juga dengan Ibnu ‘Arabi, kitab Fushul Hikam karya dia tidak lain dibawa oleh Rasulullah SAW kemudian diserahkan kepada dia, apa yang ditulis oleh Ibnu Arabi adalah hasil di dikte secara kata per kata oleh Rasulullah SAW.

Sampai saat ini pun masih banyak orang-orang yang bisa berkomunikasi dengan Rasulullah SAW, tentu hal ini terjadi setelah mereka melewati tahap demi tahap, sampai dekat dengan Rasul. Dalam sebuah hadist Qudsi Allah berfirman, “Tidak akan sampai kepada-Ku kecuali melalui Rasul-Ku’. Artinya siapapun yang mengaku makrifat kepada Allah tapi tidak berjumpa dengan Rasulullah maka dia telah berbohong atau makrifat dia itu diragukan sama sekali.

Persoalan Maha Halus ini tidak sembarang dikupas, ini hanya bisa dilaksanakan lewat tasawuf yang pelaksanaan teknisnya lewat Tarekat. Di dalam tarekat dilakukan penelitian di Laboratorium bernama Suluk atau ‘Iktikaf, sehingga setahap demi setahap rohani para penempuh jalan kepada-Nya terangkat naik, maka ketika sampai di alam tersebut, segala yang gaib menjadi nyata. Persoalan jumpa dengan Rasul yang banyak diceritakan dalam kitab-kitab klasik itu jangan anda bahas dengan orang syariat (baca;wahabi) karena tidak mungkin mereka mampu mencernanya. Bagi mereka tugas Nabi itu hanya menyampaikan wahyu dan ajaran agama, setelah itu selesai. Mereka tidak akan paham tentang “Muhammadin wal awalin wal akhirin”.

Oleh karena itu, tarekat itu bukan hanya penting tapi MAHA PENTING untuk dijalani oleh segenap ummat Islam, agar bisa mencapai kemenangan di dunia dan akhirat. Tanpa menekuni tarekat, maka segala yang di dapat di dalam agama hanya berupa teori saja, tidak akan pernah bisa dibuktikan.

Shalat hanya menjadi gerak badan, sedangkan rohani melayang-layang di alam khalayan, dan shalat yang seperti ini mau diberikan kepada Allah??

Surga, neraka dan segala yang gaib itu persis seperti Virtual Reality yang sekarang sedang dikembangkan. Wikipedia memberikan definisi Virtual Reality sebagai  teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan komputer  (computer-simulated environment), suatu lingkungan sebenarnya yang ditiru atau benar-benar suatu lingkungan yang hanya ada dalam imajinasi . Lingkungan realitas maya terkini umumnya menyajikan pengalaman visual , yang ditampilkan pada sebuah layar komputer  atau melalui sebuah penampil stereokopik tetapi beberapa simulasi mengikutsertakan tambahan informasi hasil pengindraan, seperti suara  melalui speaker atau headphone.

Virtual Reality adalah kehidupan maya yang diciptakan oleh kemampuan komputer sehingga ketika kita masuk kedalamnya, dunia pun berubah, kita se olah-olah tidak lagi berada di alam nyata, tapi masuk ke dalam lain. Virtual Reality ini sebenarnya mirip dengan dunia gaib, ketika akses kesana terbuka maka kita berada bukan lagi di dunia ini, tapi sudah berada di dunia lain.

Seperti nasehat Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW, bahwa dunia ini hanyalah mimpi dan manusia akan terbangun dari mimpi setelah mati. Maknanya bahwa dunia ini adalah Virtual Reality, ketika alatnya kita lepas maka kita berada pada alam nyata. Kehidupan akhirat itu nyata tapi karena kita masih berada dalam alam Virtual Reality yang bernama dunia ini, maka akhirat akan menjadi tidak nyata.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64)

Allah SWT sendiri telah mengingatkan manusia bahwa dunia ini hanya senda gurau dan main-main, hanyalah Virtual Reality untuk kita akses sesaat saja, nanti akan tiba saatnya kita lepaskan alat pengakses tersebut, barulah kita sadar akan alam lain. Tugas kita di dunia ini adalah bagaimana melatih diri untuk bisa keluar dari Virtual Reality itu bukan nanti keluar karena terpaksa sehingga tidak ada persiapan sama sekali menghadapi dunia nyata berupa alam kubur dan alam baqa, sehingga kita hidup merana disana.

Maka tarekat lewat bimbingan Mursyid menuntun kita untuk membuka alat (hijab) yang selama ini melekat pada diri kita sejak lahir sehingga setahap demi setahap di tuntun ke alam akhirat, dan ketika tiba saatnya (meninggal) kita tidak lagi gamang, karena sudah sering berada di dalam akhirat.

Manusia yang bersifat lalai tidak akan mungkin sadar kalau dirinya sedang bermimpi, tidak akan sadar kalau dirinya berada pada alam tidak nyata yang bernama dunia ini, kehidupan Virtual Reality seperti permainan Game itulah yang diikuti terus menerus dan makin lama makin jauh dia dari kehidupan nyata berupa akhirat. Paling aneh lagi, kalau ditanya tentang akhirat, dia menjawab kehidupan akhirat nanti setelah mati. Padahal Nabi telah memberikan cara untuk memasuki alam akhirat itu dengan nasehat Beliau “Matikanlah dirimua sebelum mati”. Alami kematian sebelum kematian itu datang agar engkau bisa berada di alam lain, selain dunia yang fana ini.

Manusia sampai kapanpun tidak akan bisa membuka hijab (penghalang) antara dirinya dengan Allah, dan jika di dunia penghalang tersebut tidak mampu disingkirkan, maka sampai kehidupan setelah mati pun hijab itu akan tetap ada dan dia tidak akan pernah berjumpa dengan Allah SWT. Ruh nya akan melanglang buana, merana milyaran tahun di alam baqa, alam tanpa batas dan abadi.

Hijab itu akan tersingkap, terangkat ketika manusia mampu melawan dirinya, berjihad sungguh-sungguh tentu setelah menemukan wasilah (Al-Maidah, 35), maka segala yang gaib akan menjadi nyata dan dia menjalani kehidupan di alam dunia ini dengan suka cita karena dia sudah menemukan jalan kembali. Ketika waktunya tiba, Allah SWT memanggilnya dengan mesra..

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).

Di pagi Jum’at penuh berkah ini, matahari pun semakin meninggi, semoga siapapun yang membaca tulisan ini mendapat rahmat dan karunia dari Allah SWT, akan terbimbing dan terbuka hijabnya. Aamiin aamiin aamiin Ya Rabbal ‘Alamin

Insya Allah tulisan Virtual Reality ini akan kami lanjutkan di lain kesempatan…

(www.sufimuda.net)

Kebahagiaan Hakiki

Untuk mendefisinikasikan makna bahagia diperlukan uraian panjang dan terkadang kalau dibaca terkesan rumit. Bahagia menurut seseorang akan berbeda dengan orang lain. Begitu juga definisi bahagia menurut sebuah kelompok bisa jadi akan tertolak oleh kelompok lain. Seorang ahli seni mendiskripsikan bahagia menurut kesenangannya, ketika dia berada di lingkungan orang-orang seni dan bisa mengekspresikan karya-karyanya maka itu akan membuat dia bahagia. Bagi seorang pengusaha ketika bisnisnya berkembang dan terus maju, mampu melewati berbagai rintangan sehingga dia sukses maka bahagia akan menghampiri mereka.

Maka bahagia memang bisa bersifat relatif tergantung sudut pandang masing-masing. Karenanya tidak mungkin bahagia itu diseragamkan. Bahagia yang bersifat relatif ini tentu saja tidak bisa disebut bahagia dalam makna hakiki. Seorang yang mempunyai kenderaan baru akan merasa bahagia paling lama 1 bulan, setelah itu bahagia akan berubah menjadi hal biasa. Bahkan kalau kenderaan tersebut diperoleh dengan cara kredit maka tiap bulan bukan lagi bahagia di dapat tapi kesusahan, susah menutupi angsuran. Begitu juga jika seseorang mendapatkan rumah baru, bahagianya juga sama, bersifat sementara, setelah itu akan berkurang bahkan lenyap. Memiliki istri cantik juga tidak ada bedanya, setelah menikah semua menjadi biasa, hilanglah yang namanya bahagia.

Kalau memang bisa hilang dan berganti maka itu bukanlah Kebahagiaan yang hakiki. Allah SWT menjanjikan kebahagiaan hakiki berupa surga yang disana tidak ada lagi penderitaan, kebosanan, tidak tua dan lain sebagainya. Agar lebih mudah dipahami oleh manusia, apalagi manusia yang hidup 1400 tahun yang lalu, maka Nabi mendeskripsikan surga sebagai taman yang indah, air mengalir, sungai susu dan tidak lupa dengan bidadari di dalamnya. Surga yang digambarkan demikian tentu akan sangat menarik hati bagi orang-orang Arab yang tinggal di padang pasir nan tandus.

Kalau di tulis dalam bahasa sederhana, hakikat surga sebenarnya adalah beserta dengan Allah SWT sebagai sumber dari segala sumber kebahagiaan. Kebagiaan hakiki beserta dengan Allah SWT inilah yang harus kita dapat sejak di dunia ini, harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Seorang bayi yang tinggal dalam istana megah, diberikan tempat tidur dari sutra dan dikelilingi oleh intan berlian tidak akan membuat dia bahagia, sampai dia dipertemukan dengan Ibunya. Di dalam pelukan sang Ibu lah kebahagiaan hakiki si anak di dapat. Bayi yang gelisah dan menangis itu akan langsung diam ketika berada dalam pelukan Ibunya.

Begitu juga manusia, pada dasarnya diberi apapun kenikmatan di dunia ini, harta melimpah, rumah besar dan kenderaan mewah tidak akan bisa membuat dia bahagia dalam makna sebenarnya sampai dia berjumpa dengan “Ibunya” tempat dia berasal yaitu Allah SWT. Ketika manusia menemukan jalan kembali kepada Allah SWT, menemukan cahaya-Nya di dunia ini maka disitulah dia menemukan kebahagiaan yang tidak akan hilang selamanya. Kebahagiaan hakiki adalah ketika dia datang maka dia tidak akan pernah pergi lagi.

Maka siapapun yang mengalami keresahan jiwa, hati berdebar tanpa sebab walaupun ibadah rajin, itu maknanya dia belum menemukan jalan kembali untuk selalu bersama Sang Pemillik Bahagia. Maka tidak heran para sufi yang telah menemukan kebahagiaan ini seperti tidak memperdulikan lagi dunia yang fana ini, mabuk dengan kehidupan akhirat yang tidak bisa terungkap dengan kata-kata. Mereka bisa jadi sibuk mengurus bisnis, berusaha, berkembang sesuai dengan kebutuhan duniawi tapi hati mereka tidak pernah lepas walau sesaat dari Allah SWT. Bagi seorang sufi, sedetik terlepas dari Dzikir kepada Allah sama dengan neraka baginya.

Shalat, Puasa, Haji, Umrah adalah sarana kita untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan sebagai alat untuk mengenal-Nya. Untuk mengenal Allah SWT secara hakiki tentu ada yang memperkenalkan. Tanpa mengenal lewat yang memperkenalkan maka kita hanya mengenal Allah SWT sebatas Nama, Sebatas Sifat, sebatas imajinasi atau khayalan maka bisa jadi surga yang di dapat kelak juga berupa surga ucapan atau surga khalayan.

Maka segala sesuatu harus kita selesaikan di dunia ini agar kelak ketika ajal menjemput semua urusan telah selesai dan kita dipanggil dengan penuh ketenangan. Sebelum berenang di samudera haruslah belajar dulu di kolam renang sampai mahir agar tidak tenggelam. Sebelum ajal menjemput maka kenalah Allah SWT dengan sebenar kenal agar ketika ajal datang kita tidak salah alamat untuk kembali karena sudah kita kenal sejak hayat di kandung badan.

Semoga Bermanfaat…
(www.sufimuda.net)

SYI’AH-SUNNI YANG PENTING JUMPA ALLAH

Setelah Abu Bakar dipilih menjadi khalifah, Abu Sufyan datang menghadap Ali bin Abi Thalib RA. Dengan penuh kemarahan ia berkata,”Mengapa kekhalifahan diserahkan kepada orang yang paling rendah status dalam kabilah Quraisy dan orang yang paling terhina (Abu Bakar RA)”.

Kemudian ia melanjutkan kata-katanya dengan rasa marah, “Demi Allah, jika kamu izinkan, aku akan kumpulkan kuda dan orang-orang untuk memeranginya.”

Akan tetapi Imam Ali kw menjawab,”Wahai Abu Sufyan, selama ia menjaga Islam dan pemeluknya, maka tidak apa-apa jika ia yang memegang kekhalifahan. Dan aku menilai bahwa Abu Bakar adalah orang yang layak untuk menjadi khalifah”. (lihat Al-Haakim juz 3, hal. 78).

Sungguh luar biasa sikap para sahabat Nabi SAW yang bisa saling menghormati dan tidak gila kekuasaan seperti yang ditunjukkan oleh Imam Ali kw. Sangat berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang merasa menjadi pengikut Beliau, merasa menjadi pembela Ahlul Bait akan tetapi yang tertanam dalam hati hanya kebencian dan dendam berkepanjangan dan diwariskan dari generasi ke generasi sampai hari ini. Kekejaman Muawiyah bin Abu Sufyan beserta Dinasti Umayyah nya terhadap keluarga Nabi menimbulkan kepedihan berkepanjangan dan kemudian tanpa disadari menyebabkan perpecahan dalam ummat Islam.

Saya dan juga pengamal Thareqat Naqsyabandi lain nya bukan lah orang-orang yang terikut dalam pertentangan tersebut. Oleh Guru saya diajarkan bahwa semua sahabat Nabi itu adalah orang-orang pilihan yang sangat berjasa dalam mengembangkan Agama Islam. Seluruh Thareqat yang ada saat ini bersumber kepada dua sahabat yaitu Abu Bakar RA dan Ali Bin Abi Thalib kw.

Dalam Do’a Pusaka yang selalu dibacakan disaat penutupan suluk/’itikaf didalamnya selalu disebutkan 4 wali utama yaitu Syekh Abdul Qadir Jailani dan Syekh Junaidi Al-Bahgdadi yang silsilah Thareqatnya bersambung kepada Imam Ali kw serta Syekh Abu Yazid Al-Bisthami dan Syekh Bahauddin Naqsyabandi yang silsilah Thareqatnya bersambung kepada Saidina Abu Bakar RA.

Mempertentangkan Syi’ah dan Sunni dalam bingkai Thareqat merupakan suatu tindakan yang kurang bijaksana karena Thareqat itu telah melampaui paham-paham syariat yang dikembangkan oleh kedua aliran. Bisa jadi seorang pengamal Thareqat Qadiriah yang silsilahnya bersambung kepada Imam Ali kw tidak ikut aliran syiah dan juga sebaliknya bisa jadi pengamal Thareqat Naqsyabandi yang silsilahnya bersambung kepada Abu Bakar RA ikut kepada paham Syi’ah, itu merupakan hal yang wajar-wajar saja. Sufi Muda bukanlah forum untuk membela Sunni meskipun pelaksanaan syariatnya tunduk kepada Mazhab Imam Syafi’i sebagai mazhab yang paling banyak pengikutnya di Indonesia. Biarlah pertentangan masa lalu itu terkubur bersama sejarah karena orang-orang yang berlaku tidak adil terhadap Ahlul Bait yang mulia pun telah di azab oleh Allah SWT.

Terakhir, jika kita masih mempertentangkan antara Syi’ah dan Sunni dalam bingkai Thareqat menandakan bahwa kita  belum mengerti sepenuhnya apa itu Thareqat karena sesungguhnya Thareqat itu adalah murni metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Allah nya orang Sunni dan Allah nya orang Syi’ah, dan sudah pasti Allah nya Nabi Muhammad SAW. Dari pada memperdebatkan jalan mana yang paling cepat sampai kepada-Nya lebih baik jalani salah satu jalan (thariq) dan setelah sama-sama sampai di Taman Surga marilah kita saling senyum dan bertegur sapa, marilah kita sama-sama melayani-Nya dengan senang hati. Semoga Allah SWT akan memberikan kesempatan kepada kita semua untuk terus bisa memandang wajah-Nya dari dunia sampai ke akhirat kelak, Amien Ya Rabbal ‘Alamin.

http://www.sufimuda.net

Mengapa Non-Muslim Disebut Kafir oleh Orang Islam?

Ada lagu lama yang bila didengarkan kembali memberi kebahagiaan tersendiri. Saya tidak tahu apakah perkara natalan termasuk lagu lama itu. Saya bayangkan saudara saya sebangsa yang beragama Nasrani memperhatikan kami kaum Muslimin. Tersenyumkah mereka, memaklumi, atau muncul sebersit tanya? Setiap tahun mengucapkan ‘Selamat Natal’ dan tidak selalu jadi kontroversi. Ibarat lagu lama, ia mengiang mengingatkan. Sayang, saya belum pernah membaca bagaimana perasaan dan komentar mereka tentang lagu lama itu.

Tahun ini, saya jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan perkakas di kota Bandung. Seingat saya, biasanya para pramuniaga mengenakan topi Santa di kepala. Kali ini tidak. Konon beredar larangan memakainya. Dasarnya? Nanti anak-anak lebih kenal tradisi agama lain daripada tradisi sendiri. Pengelola pusat perbelanjaan itu tampaknya memahami. Mereka memilih tidak ambil resiko. Tak ada satu topi pun dikenakan kini.

Dulu, sekitar lima-enam tahun yang lalu, saya ajak anak saya ke tempat yang sama. Apa pasal? Ia minta dibelikan pohon natal. Barangkali, karena film yang dilihatnya di televisi. Ia memang bertanya sebelumnya ”Can we celebrate Christmas?” Saya jawab, ”Natal dirayakan oleh umat Kristiani.” Kemudian ia susul dengan pertanyaan, ”Bolehkah aku punya pohon Natal?”

Saya menjawabnya dengan mengajaknya jalan-jalan ke pusat perkakas itu. Di sana dijual pohon Natal berwarna-warni, sintetis tentu saja, kebanyakan mungkin dari Tiongkok, diproduksi oleh mereka yang bukan umat Kristiani. Kabarnya, di Makkah pun sama. Banyak oleh-oleh haji dan umrah bukan produksi Saudi, tapi Tiongkok sana. Dalilnya, ya…cari ilmu ke negeri Cina itu.

Begitu anak saya melihat-lihat pohon natal, ia menjawab cepat, ”Aku mau PS2 saja Bi…pohon natal mahal-mahal.” Saya tersenyum mendengarnya.

Saya tidak tahu kapan saat yang tepat mengajarkan toleransi. Kapan membombardir pikiran jernih anak-anak dengan kata-kata ”Sesat, salah, kafir, musyrik, murtad dan sejenisnya.” Mereka tahu ada perbedaan, tapi bagaimana mengelola perbedaan itu. Beberapa kawan yang saya ceritakan jalan-jalan saya dengan anak saya itu terkejut. Kata mereka, ”Emang boleh Muslim punya pohon natal?” Saya jawab dengan pertanyaan lagi: ”Pohon natal itu tradisi. Mirip seperti ketupat dan sate. Kalau Idul Fitri, bolehkan saudara Kristiani berketupat ria? Kalau Idul Adhha, bolehkah mereka membakar sate dan menikmatinya?”

Benar ada pro dan kontra tentang kapan dimulai tradisi itu, seperti juga ketupat. Benar juga bahwa Sinterklas diperkenalkan dengan segala komersialisme yang menyertainya. Tapi bukankah puasa (di bulan suci Ramadhan) dan haji, juga natalan adalah di antara waktu-waktu yang menjadi perhatian para pelaku bisnis dunia? Ketika komersialisme menunjukkan puncaknya?

Di Kampus, saya mengajar di sebuah kelas internasional. Saya sampaikan pada mereka sudut pandang memahami agama. Kita sebut saja ‘isme’. Ada partikularisme: dalam satu agama pun tidak semua selamat. Hanya satu kelompok saja yang benar. Yang lain, maaf, harus menunggu di pintu surga. Kedua, ekslusivisme. Asal masih seagama beda pendapat dan kelompok sah-sah saja. Yang beda agama, neraka tempatnya. Ketiga, inklusivisme. Agamaku paling benar tapi agama orang lain pun ada benarnya juga. Perihal surga, serahkan pada keadilanNya. Keempat sinkrestisme, mencampuradukkan agama, mengambil sini dan sana…dan kelima, pluralisme, saat memandang semua agama adalah bentangan jalan menuju dan memuja Tuhan semesta yang esa.

Pada bagian ‘isme’ yang manakah kita berdiri? Atau, adakah yang keenam? Saat menjelaskan pluralisme, saya hadapkan mahasiswa pada dinamika intelektual. Banyak yang mengharamkannya, menjadikannya bahan gugatan, mewaspadainya karena ia dapat menggerus keyakinan. Pluralisme bukan memaknai semua agama sama. Pluralisme juga bukan mengatakan semua agama benar. Pluralisme adalah cara sudut pandang.

Untuk menilai setiap agama dari ruanglingkup yang menyertai agama itu. Jangan nilai Katolik dari kacamata (orang) Islam (memahaminya), dan jangan nilai Islam dari kacamata sebaliknya. Pluralisme adalah ruang berkompetisi, agar masing-masing umat berlomba memberikan kontribusi. Ia disebut ‘plural’ karena identitas sekian tunggal yang mengemuka, sekian bentuk individual.

Tibalah dalam diskusi, lagi-lagi perkara selamat natal. Mahasiswa saya yang muslim terbagi dua: yang mengucapkan dan yang tidak. Alasan yang tidak, karena ada fatwa MUI. Fatwa berusia lebih dari tigapuluh tahunan itu kini goyah posisi. The Jakarta Post edisi Rabu 24 Desember menjadikannya headline, ”MUI allows merry christmas.” MUI (akhirnya) membolehkan ucapan Selamat Natal. Saya tak melihat ia jadi headline di koran lokal. Tentu, bukan tanpa kecaman. Pernyataan itu segera menuai protes sana-sini, dari para ‘pemilik surga’ yang tak rela berbagi. Sejarah memasuki babak baru kini.

Saya tanya mahasiswa saya, ”Bagaimana agama mengajarkan kita saat orang lain berbahagia, atau saat mereka berduka?” Semua sepakat jawaban yang sama: kita harus bahagia dengan kebahagiaan sesama, dan berduka dengan penderitaan yang lainnya. Tapi, saat tetangga kita umat Kristiani bersukacita karena lahirnya juru selamat mereka, haruskah kita ikut bahagia? Bagaimana cara mengungkapkannya? The least thing we can do adalah menyelamati mereka. Mahasiswa saya setuju. Kata mereka, ”Ucapkan selamat saja, tanpa ada kata ‘natal’ di dalamnya.’ Lagi-lagi mereka gamang, dan berpegang pada fatwa tigapuluh tahun silam.

Kini, saya bayangkan perasaan dan pikiran teman-teman Kristiani itu, terhadap kami kaum Muslimin. Lebaran mereka datang pada kami mengucapkan turut berbahagia. Ada yang keliling ke rumah tetangganya, mengenakan pakaian terbaik mereka dan mengucapkan selamat hari raya. Mereka bersukacita dengan hari bahagia kita. Saat tiba hari raya mereka, bagaimana kita seharusnya?

Sayang, keteladanan tentang itu justru dicontohkan oleh seorang ulama sepuh yang mengubah dunia di akhir hayatnya. Dalam situs resmi en.imam-khomeini.ir ada kisah Imam Khumaini saat diasingkan di Paris, Perancis. Pada malam natal, Imam menyampaikan pesan Selamat Natal pada semua umat Kristiani di dunia. Imam memerintahkan umat agar mendatangi tetangganya yang Kristiani dan memberi mereka hadiah. Imam sendiri mengetuk pintu rumah para tetangganya di Neuphle le-Château membawakan bagi mereka hidangan tradisional Iran: manisan, kacang pistachio dan buah-buahan kering. Bahkan bagi setiap paket itu dirangkaikan seikat bunga.

Seorang nenek tua tersentuh dengan apa yang dilakukan Imam. Tangisan menetes haru karenanya. Seorang non-Kristiani mengunjungi rumah-rumah umat Kristiani dalam dingin dan tebalnya salju dan menyampaikan ungkapan turut.berbahagia dengan mereka. Beberapa orang di antaranya membalas kunjungan Imam. Melihat mereka datang Imam bertanya, adakah yang bisa ia lakukan untuk mereka? Imam menawarkan perkhidmatannya. Mereka hanya mengucapkan terima kasih dan membawa bunga. Imam pun menyimpan bunga itu di vas di ruang tamunya.

Mengapa saya katakan ‘sayang’ di awal paragraf di atas itu. Karena sang Imam pendiri Republik Islam Iran ini juga tak kalah dianggap sesatnya oleh para ‘pemilik surga’. Ia dianggap kafir, bukan Islam, penyebar virus kekerasan. Gambar-gambar yang melecehkannya bertebaran di dunia maya. Bila demikian, contoh ulama mana lagi yang harus kita teladani?

Menarik untuk melihat bagaimana ayat ‘lakum diinukum waliyaddiin” dipahami. Ia biasa muncul dalam konteks antaragama. Padahal ‘khitab’ sasaran ayat itu adalah ‘al-kaafirun.’ Saya pernah ditanya di sebuah kelas Kristiani. Saya diminta mengajar Islamologi. Mereka ingin tahu Islam tapi tidak dari para pendeta. Obyektif saya kira. Seorang bertanya pada saya ”Mengapa kami (non-Muslim) disebut ‘kafir’ oleh orang Islam?” Bagi setiap pembaca tulisan ini, silakan jelaskan pada mereka mengapa kalian memanggil kafir pada mereka. ”Kadang-kadang,” lanjut penanya, ”mereka mengucapkan kafir dengan nada dan makna yang terdengarnya tidak enak sama sekali…”

Padahal dalam Al-Quran ada terminologi Ahlul Kitab yang dibedakan dengan orang kafir. Kepada mereka bukan ‘lakum diinukum wa liyaddiin’ tapi ‘ta’aalau ilaa kalimatin sawaa’in baynana wa baynakum…’ mari menuju kalimat yang sama anta kami dan kalian. Lalu, apa yang disebut kafir?

Surat Ali Imran mengisahkannya pada kita. Pada ayat 151 Yang Mahasuci berfirman, ”Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan (musyrik pada) Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu.”

Dalam ayat ini kafir adalah karena mereka menyekutukan. Kafir adalah kemusyrikan. Dan Allah Ta’ala pisahkan pembagian itu di antara mereka. Dalam Surat Haji ayat 17, Yang Mahasuci berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi’in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi, dan orang-orang musyrik…Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Dalam ayat ini, musyrik dikelompokkan terpisah dari yang lainnya.

Terakhir, Surat Ali Imran memerintahkan kita untuk tidak memukul rata setiap yang berbeda, Dalam ayat 113 dan 114, ”Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari; sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”

Saya tidak tahu lagu lama mana yang akan dikenang oleh saudara-saudara kita Nasrani tentang kaum Muslimin dan hari Natal. Saya bayangkan satu saat, keagamaan kita tidak dinilai dari pernak-pernik yang dikenakan. Bahwa orang Nasrani berpeci ria, orang Islam mengenakan topi Santa…tidak untuk memperdebatkan asal-usulnya. Tetapi sebagai bentuk penghormatan pada sesama. Mungkinkah akan terjadi? Lagu manakah yang akan bernyanyi abadi?

Selamat hari kelahiran kekasih Tuhan itu, saudaraku. Selamat hari Natal.

http://misykat.net, by Miftah Fauzi Rakhmat

 

 

 

MAULANA

HATI TAK BERTEPI…
USAHA TAK BERHENTI…
HANYA SATU YANG KITA CARI…
KASIHMU YANG GURU SEJATI…

Amat indah persaudaraan sufi…
Malam-malam penuh kerinduan di beranda surau
Ketulusan tanpa batas
Keikhlasan yang amat menyentuh hati
aku amat rindu…
9 Mei….. 7 tahun yang lalu MAULANA berlindung kehadirat-Nya
Tinggal kenangan…
sungguh DIA tetap hidup dalam QALBU hamba-Nya
Teruskan Abangda ku pengabdian kepada-Nya….
Jika berkenan kirimkanlah pesan2 MAULANA kepada kami, agar sufimuda tambah dewasa…
ingin sekali kami memuat biografi serta fatwa2 YMM Ayahanda….tapi kami kekurangan bahan…
Semoga Abangdaku berkenan berbagi cerita dan pengalaman lewat sufimuda@gmail.com

Atas syafaat-Nya, TUHAN YANG MAHA RAHMAN DAN MAHA RAHIM telah menuntun diri lemah ini meneruskan pengabdian kepada YMM Bapanda….

Sungguh Pohon dan Cabangnya adalah SATU
Sungguh SUNGAI dan anak SUNGAI adalah SATU
Sungguh HATI orang mukmin itu adalah SATU
salam…

“Perbedaan adalah Rahmat” begitulah Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist.

Sungguh amat disayangkan sekarang ini dikalangan orang2 yang mengaku murid MAULANA justru suka sekali melemparkan kata SESAT kepada saudara sendiri, lebih menyayangi “saudara jauh” (orang2 non thariqat) dari pada saudara seguru…
Kenapa?
memang itulah uniknya,
CINTA yang mendalam terkadang tanpa disadari disertai kebencian yang mendalam pula…

Tidak lama lagi 20 Juni…. hari yang amat berharga bagi kita semua, BAPANDA selalu menganjurkan kami untuk ikut merayakannya….ikut serta hadir di MAKAM MAULANA…

Suatu saat nanti sumber mata air KEBANARAN dari MAULANA akan membentuk ribuan sungai…..

dari sungai2 itulah kelak kita berjalan, para pencari kebenaran menempuh perjalanan menuju ke satu TITIK yaitu berkumpul di talaga YANG MAHA AGUNG…

TELAGA itu terlalu besar saudaraku, sehingga diperlukan banyak sungai untuk mengalirkan RAHMAT dan KARUNIANYA….

Murid2 MAULANA tidak terpecah… tapi justru membentuk sungai2, agar ajaran MAULANA tersebar di seluruh muka bumi…

Kami berada dalam sebuah kamar milik BAPANDA, kamar tersebut ada dalam rumah AGUNG milik sang MAULANA, rumah itu berada dalam sebuah kampung bernama NAQSYBANDY… dan kampung NAQSYABANDY itu berada dalam sebuah negara yang bernama ISLAM…

Jadi…kita masih dalam satu rumah

suatu saat yang berziarah ke MAKAM MAULANA bukan hanya orang2 Indonesia dan malaysia… tapi seluruh dunia…
Semoga….

 

Islam Jasmani dan Rohani?

Tuhan meminjamkan ruh kepada manusia dalam keadaan suci, bersih tanpa noda dan Tuhan akan meminta apa yang telah dipinjamkan itu untuk dikembalikan lagi kepada-Nya. Tuhan hanya mau menerima apa yang dipinjamkan tersebut dalam kondisi awal, bersih dan suci

Sebelum ajal tiba, hendaknya ruh dibersihkan terlebih dulu, diajarkan cara menyebut nama Allah sebagaimana jasmani diajarkan menyebut nama Allah.

Muhammad bin Abdullah mengajarkan jasmani orang Arab dijamannya akan kebenaran Agama Allah.

Sedangkan Rasulullah SAW sebagai rohani yang ada dalam diri Muhammad bin Abdullah mengajarkan rohani sekalian para sahabat dan manusia yang hidup zaman itu  tentang sebuah kebenaran yang hakiki.

Guru Agama mengajarkan kita  membaca al-Qur’an, menghapal hadist, mengerti cara bersuci dan hukum-hukum agama berarti jasmani kita telah belajar dan mengerti tentang agama.

Sedangkan rohani kita belum.

Ilmu untuk meng-Islam-kan manusia itu sangat gampang, dengan mengucapkan syahadat dengan keyakinan dalam hati maka dia sudah termasuk ke dalam Islam.

Sedangkan untuk mengsyahadatkan rohani (Islam secara rohani) diperlukan ilmu yang berbeda dengan cara mengajarkan jasmani.

Sama halnya dengan menyebut nama Tuhan, semua orang mengerti cara melafalkan nama Tuhan, melakukan zikir bersama itu perkerjaan sangat mudah.

Bahkan anda tidak harus menjadi seorang alim untuk bisa menyebut nama Tuhan.

Tapi apakah rohani nya sudah bisa menyebut nama Allah? Apakah rohaninya ikut menyebut nama Allah?

Ini menjadi renungan untuk kita semua, sudahkan kita ber-Islam secara Jasmani dan Rohani?

TUJUAN HIDUP HAKIKI

Sepanjang perjalanan hidup dan kehidupan, seorang hamba senantiasa dituntut untuk berusaha menjaga, memperbaiki dan meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan dalam menghambakan diri kepada Allah swt. Di mana mereka harus sadar akan posisi dirinya sebagai hamba Allah (‘abid) yang harus taat dan tunduk terhadap segala titah-Nya, sebagai yang disembah (al-ma’bud) dalam kondisi apa pun adanya. Dalam menuju kesana banyak cara yang ditempuh sesuai dengan cara dan pendekatan bermacam-macam dan berbeda-beda, antara lain, dengan mengasingkan diri dari keramaian, menjauhkan diri dari kehidupan materi, memilih hidup sederhana. Aktifitas-aktifitas semacam itu kemudian disebut dengan kehidupan asketis (zuhud). Semua perjalanan yang dilalui itu adalah semata-mata dalam rangka menemukan tujuan hidup hakiki yang merupakan kebahagiaan yang kekal dan abadi.

Dalam perkembangan selanjutnya, perjalanan spiritual yang demikian itu kemudian dikenal dengan perjalanan dan pengalaman sufistik. Sedangkan tujuan dari perjalanan sufistik tersebut adalah semata-mata untuk memperoleh hubungan langsung dan didasari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di Hadirat Allah swt. Intisari dari ajaran sufisme ini adalah kesadaran adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan Allah dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi. Adapun kesadaran berada dengan Allah itu dapat mengambil bentuk ittihad (penyatuan diri dengan Tuhan), hulul (manifestasi Tuhan dalam diri manusia), ma’rifat (Melihat-Nya) ataupun mahabbah (Mencintai-Nya).

Dengan berbagai metode dan pendekatan yang ditempuh seorang sufi seperti itu, maka dalam kaitan ini, Imam Jakfar Ash-Shadiq pernah mengatakan, bahwa dalam beribadah kepada Allah akan ditemui tiga macam bentuk: Pertama, kaum yang menyembah Allah karena takut. Yang demikian itu adalah ibadahnya hamba sahaya; Kedua, kaum yang menyembah Allah kerena untuk mengharapkan imbalan. Yang demikian adalah ibadahnya para pedagang; dan Ketiga, kaum yang menyembah Allah karena rasa cinta (mahabbah). Yang demikian adalah ibadahnya orang merdeka. Inilah ibadah yang paling utama. Dengan demikian, jelaslah bahwa menyembah Allah karena cinta adalah ibadah tingkat tinggi dalam rangka mencari ridha Allah swt.

Pada dasarnya tuntunan dan ajaran tasawuf adalah menekankan pada asfek esoteris (batin) dan bukan pada eksoteris (lahir), maka dalam praksisnya seseorang salik (pelaku tasawuf) senantiasa ingin mensucikan dirinya dari hal-hal yang kotor yang masih melekat pada hati dan jiwanya. Dia berusaha mengisinya dengan hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, sehingga tidaklah berlebihan apabila seorang salik hatinya tidak bisa dilepaskan dari keinginan untuk mendekat kepada kekasihnya, yaitu Allah swt. Banyak jalan yang ditempuh olehnya, antara lain dengan banyak berdzikir kepada Allah, maupun memperbanyak amalan-amalan shalih lainnya.

Oleh karena itu, terdapat ungkapan yang berbunyi, “Apabila Islam dipisahkan dari aspek esoterisme-nya, maka ia hanya menjadi kerangka formalitas saja, sehingga orang-orang yang rasionalistik hanya menerima Islam sebagai keformalan semata. Apabila kerangka tersebut tidak dibalut dengan daging dan kemudian dihidupkan, sesungguhnya keindahan Islam tidak akan pernah ditemukan.

Dalam tradisi keberagamaan ummat Islam, motivasi ibadah ummat awam lebih cenderung bersifat simbolistik-formalistik. Mereka beribadah hanya bermotifkan mencari pahala surga dan menjauhi neraka. Mereka menganggap surga dan neraka adalah tujuan akhirnya. Mereka tidak tahu bahwa tujuan yang lebih berarti dan bermakna dari ibadah tersebut. Ibarat seorang anak kecil yang dipaksa masuk sekolah (SD) oleh ibunya, karena sang anak tidak tahu tujuan dari pendidikan maka ibu memberikan motivasi berupa hadiah, kalau anaknya mau masuk sekolah akan diberikan baju baru, dan kalau naik kelas akan diberikan sepeda mini, dan terus sampai anaknya tamat SD masih tetap dimotivasi dengan hadiah-hadiah dan kalau sang anak tidak mau sekolah akan diancam dengan hukuman. Ketika sang anak sudah masuk SMP, dia sudah mulai tahu hakikat sekolah, dia mulai mengerti untuk apa sekolah, tujuannya bukan untuk mendapatkan sepeda mini, bukan untuk menghindari hukuman, tapi tidak lain untuk mencerdaskan dirinya sebagai bekal dalam menempuh kehidupan. Sungguh, betapa banyak ummat Islam beragama seperti anak kecil yang masuk sekolah karena hadiah, dan sangat disayangkan akan terus demikian tanpa tahu hakikat beragama.

Tentang hakikat beragama, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa kitab ibarat tongkat yang diperlukan untuk berlatih agar bisa  berjalan, ketika sudah pandai berjalan maka tongkat itu tidak diperlukan lagi dan justru akan memperlambat perjalanan. Betapa banyak orang yang terus memeluk dengan erat kitab/buku, terus asyik dengan dalil sampai akhir hayatnya, merasa sudah pandai barjalan padahal tidak pernah menempuh perjalanan.

Tujuan hidup yang hakiki adalah menemukan Allah, memandang keindahan wajah-Nya yang kekal abadi, barulah kemudian menghambakan diri dan mencintainya dengan sebenar-benar cinta, dari sanalah sumber hikmah dan karunia mengalir dengan deras, laksana guyuran air hujan dari langit.

Menurut al-Ghazali, cinta kepada Allah merupakan benih kebahagiaan, dan kebahagiaan adalah tujuan akhir jalan para sufi, sebagai buah pengenalan terhadap Allah swt (ma’rifatullah).

Menurut Jalaluddin Rumi, kebahagiaan tertinggi dalam perjalanan hidup adalah terletak pada pengetahuan sejati tentang Allah swt (Ma’rifatullah). Yang dapat diperoleh langsung melalui pengalaman bathin, yaitu hati (intuisi) yang bersih dan jernih akan materi-materi lewat bimbingan seorang Guru Mursyid yang Kamil dan sangat pengerti keadaan spiritual muridnya. Bukan dengan pendekatan intelektual-teologi, filsafat, atau indera lahiriah semata.

Rumi juga memandang bahwa ma’rifat adalah buah dari fana’. Dengan kata lain, ke-fana’-an adalah ma’rifat itu sendiri. Disinilah Rumi menemukan kebahagiaan tertinggi, yaitu ketika ia sampai pada tahap ke-fana’-an atau penyaksiaan kesatuan.

Sesaat engkau fana pada-Ku, lebih baik itu pada dari engkau beramal seribu bulan”, fana’  itulah hakikat dari Lailatul Qadar, apabila orang menemukan malam itu lebih baik dari beribadah selama 1000 bulan.

Adapun bagi Rabi’ah al-Adawiyah, kebahagiaan tertinggi adalah terletak pada kasyf (terbuka hijab untuk bisa melihat Allah), yang terungkap dalam syairnya tentang cintanya, yaitu :

Cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu

Mengungkapkan tabir hingga Engkau kulihat

Dengan demikian, tujuan cinta Rabi’ah adalah pencarian Kasyf (dapat melihat Allah) itu sendiri, sehingga tak tampak sedikitpun selain-Nya. Seperti yang di Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 113:

“….dimanapun engkau memandang disitulah Wajah Allah

Al-Qur’an telah menggambarkan kepada kita betapa Maha dasyatnya memandang wajah Allah swt, surga dan seluruh isinya tidak akan bisa mengalahkan kebahagiaan memandang wajah-Nya, bahkan digambarkan kebahagiaan tertinggi penduduk surga adalah memandang wajah-Nya.

Masihkah kita berusaha berebut kapling di surga kalau sudah tahu bahwa kebahagiaan itu bukan disana? Kebahagiaan itu adalah disaat kita bersama-Nya, menikmati perjamuan-Nya, memandang wajah-Nya, dari sanalah timbul rasa cinta yang menggelora, cinta yang menggetarkan seluruh jiwa dan raga, cinta yang tidak mampu ditulis walau seluruh air laut jadi tinta dan ranting kayu jadi pena. Cinta yang membuat Saidina Ali tidak merasakan pedih kakinya saat panah dicabut, cinta yang membuat Rabi’ah tidak merasakan pedih matanya tertusuk duri.

Inilah jalan kesufian, jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang benar-benar bisa merasakan kehadiran-Nya, merasakan getaran cinta-Nya setiap saat, inilah tujuan hidup hakiki…. Yaitu Berjumpa dengan SANG KEKASIH.

Nasehat Imam al-Ghazali

Jika sampai saat ini masih ada orang yang menolak Tasawuf dan segala praktik dzikir dalam Tarekat adalah hal yang wajar karena ilmu dalam agama tersebut berlapis atau bertingkat. Antara satu tingkat dengan tingkat lain kelihatan berbeda namun pada hakikatnya sama. Anak kelas 1 SD berhitung dengan memakai jari tangan karena jumlah hitungan masih bisa dihitung oleh tangan, cara ini tidak lagi diperlukan oleh anak SMP karena hitungan mereka sudah lebih banyak dan rumit. Cara membaca anak SD dengan suara keras dan nyaring tidak berlaku di SMP apalagi di Perguruan Tinggi tapi tujuannya sama yaitu membaca agar memperoleh ilmu.

Imam al-Ghazali sebagai contoh awalnya tidak sepakat dengan pemahaman Tasawuf tapi kemudian Beliau menerimanya. Al-Ghazali berkata, “Pada awalnya aku adalah orang mengingkari kondisi spiritual orang-orang saleh dan derajat-derajat yang dicapai oleh para ahli makrifat. Hal itu terus berlanjut sampai akhirnya aku bergaul dengan mursyid-ku, Yusuf an Nasaj. Dia terus mendorongku untuk melakukan mujahadah, hingga akhirnya aku memperoleh karunia-karunia ilahiyah”.

Kalau anda melihat ada ustad berpendapat bahwa tasawuf sebagai ajaran menyimpang dari Islam, itu tidak aneh karena seperti saya kemukakan di awal tulisan bahwa agama itu berlapis, kalau di SD anda benar maka belum tentu di SMP cara dan pemahaman anda tetap benar. Imam al-Ghazali dengan tegas mengatakan, “”Bergabung dengan kalangan sufi adalah fardhu ‘ain. Sebab tidak seorang pun terbebas dari aib atau kesalahan kecuali para nabi”.

Berikut saya kutip nasehat dari Imam al-Ghazali tentang betapa pentingnya seorang memiliki Guru dalam menempuh jalan kepada Allah SWT, agar selamat dan sampai kepada tujuan.

“Di antara hal yang wajib bagi para salik yang menempuh jalan kebenaran adalah bahwa dia harus mempunyai seorang mursyid dan pendidik spiritual yang dapat memberinya petunjuk dalam perjalanannya, serta melenyapkan akhlak-akhlak yang tercela dan menggantinya dengan akhlak-akhlak yang terpuji. Yang dimaksud dengan pendidikan di sini, hendaknya seorang pendidik spiritual menjadi seperti petani yang merawat tanamannya. Setiap kali dia melihat batu atau tumbuhan yang membahayakan tanamannya, maka dia langsung mencabut dan membuangnya. Dia juga selalu menyirami tanamannya agar dapat tumbuh dengan baik dan terawat, sehingga menjadi lebih baik dari tanaman lainnya. Apabila engkau telah mengetahui bahwa tanaman membutuhkan perawat, maka engkau akan mengetahui bahwa seorang salik harus mempunyai seorang mursyid. Sebab Allah mengutus para Rasul kepada umat manusia untuk membimbing mereka ke jalan yang lurus. Dan sebelum Rasulullah Saw. wafat, Beliau telah menetapkan para khalifah sebagai wakil Beliau untuk menunjukkan manusia ke jalan Allah. Begitulah seterusnya, sampai hari kiamat. Oleh karena itu, seorang salik mutlak membutuhkan seorang mursyid.”

“Murid membutuhkan seorang mursyid atau guru yang dapat diikutinya, agar dia menunjukkannya ke jalan yang lurus. Jalan agama sangatlah samar dan jalan-jalan Syetan sangat banyak dan jelas. Oleh karena itu, jika seseorang yang tidak mempunyai Syaikh yang membimbingnya, maka pasti Syetan akan menggiringnya menuju jalannya. Barang siapa berjalan di jalan yang berbahaya tanpa petunjuk, maka dia telah menjerumuskan dan membinasakan dirinya. Masa depannya ibarat pohon yang tumbuh sendiri. Pohon itu akan menjadi kering dalam waktu singkat. Apabila dia dapat bertahan hidup dan berdaun, dia tidak akan berubah. Yang menjadi pegangan seorang murid adalah Syaikhnya. Maka hendaklah dia berpegang teguh kepadanya.”

“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, maka Dia akan memperlihatkan kepadanya penyakit-penyakit yang ada di dalam jiwanya. Barang siapa mata hatinya terbuka, niscaya dia akan dapat melihat segala penyakit. Apabila dia mengetahui penyakit itu dengan baik, maka dia dapat mengobatinya. Namun mayoritas manusia tidak dapat mengetahui penyakit-penyakit jiwa mereka sendiri. Seorang di antara mereka dapat melihat kotoran di mata saudaranya. Tapi dia tidak dapat melihat kotoran di matanya sendiri. Barang siapa ingin mengetahui penyakit-penyakit dirinya, maka dia harus menempuh empat cara. Pertama, dia harus duduk di hadapan seorang mursyid yang dapat mengetahui penyakit-penyakit jiwa dan menyingkap aib-aib yang tersembunyi. Dia harus mengendalikan hawa nafsunya dan mengikuti petunjuk mursyidnya itu dalam melakukan mujahadah. Inilah sikap seorang murid terhadap mursyidnya atau sikap seorang pelajar terhadap gurunya. Dengan demikian, mursyid atau gurunya akan dapat mengenalkannya dengan penyakit-penyakit yang ada dalam jiwanya dan cara mengobatinya.”

sMoga bermanfaat…